Kesehatan

Mengenal Penyakit Jantung Bawaan

Harianbogor.com – PADA 2015 terdapat 40.000 bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB). Angka tersebut cukup besar dan harus dapat ditangani secara tepat agar jiwa bayi dapat tertolong.

Dalam Press Conference 27th Asmiha 2018 di Jakarta belum lama ini, dr Oktavia Lilyasari SpJP(K) FIHA memberikan gambaran mengenai penyakit jantung bawaan (PJB) di Indonesia. Menurutnya, dengan jumlah kelahiran hidup sekitar 4,5 juta per tahun, diperkirakan terdapat lebih dari 40.000 bayi yang lahir dengan PJB.

“Hampir sepertiganya menderita PJB kritis yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan pada hari pertama atau tahun pertama kehidupan. Prevalensi ini terus meningkat seiring perkembangan diagnosis dan tata laksana penyakit tersebut,” urai dr Oktavia.

Dia mengatakan, risiko morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian) meningkat seiring adanya keterlambatan dalam diagnosis atau rujukan ke pelayanan kesehatan tersier untuk tata laksana selanjutnya.

PJB adalah penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir, yang terjadi akibat gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin. Gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir atau sebaliknya hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran napas berulang, sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa.

Dokter biasanya mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda/gejala gagal jantung, kebiruan, atau mendengar kelainan bunyi atau bising jantung. Masalahnya, sering kali PJB tidak memberikan gejala yang khas saat bayi baru lahir, mengingat sirkulasi darah dan sistem pernapasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir.

Di Indonesia, diketahui dari 1.000 kelahiran yang hidup, sembilan di antaranya mengidap PJB. Pada sebagian besar kasus, penyebab PJB tidak diketahui. Berbagai jenis obat dan paparan radiasi pada ibu hamil diduga merupakan penyebab eksogen PJB. Penyakit rubela yang diderita ibu pada awal kehamilan juga dapat menyebabkan PJB pada bayi. Di samping faktor eksogen, terdapat pula faktor endogen yang berhubungan dengan kejadian PJB.

Berbagai jenis penyakit genetik dan sindrom tertentu berkaitan erat dengan kejadian PJB, seperti sindrom down dan turner. Adapun angka kejadian PJB di Amerika sekitar 8-10 dari 1.000 kelahiran hidup, sepertiga di antaranya bermanifestasi sebagai kondisi kritis pada tahun pertama kehidupan.

Kemajuan Teknologi Dunia Kardiologi 
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, dr Dafsah A Juzar SpJP(K) FIHA, Ketua Scientific Committee Asmiha 2018, memaparkan, prevalensi kematian di Indonesia tahun 2000-2012 pada orang-orang berusia 30-70 tahun terus meningkat, 23%-nya disebabkan penyakit tidak menular, seperti kanker, diabetes, penyakit pernapasan kronis. “Sekitar 40% di antaranya disebabkan penyakit kardiovaskular,” ujarnya.

Dia melanjutkan, pencitraan kardiovaskular merupakan hal yang esensial dalam memahami penyakit kardiovaskular. Pada awalnya pencitraan dianggap tidak lebih dari sarana memvisualisasikan perubahan struktur dan anatomi.

Namun, dengan penemuan teknologi baru, saat ini pencitraan berperan dalam diagnosis biologis, fungsional, hemodinamik, dan beberapa proses patofisiologi. “Tren pencitraan kardiovaskular saat ini akan fokus pada peningkatan diagnosis awal sehingga dapat meningkatkan kesehatan kardiovaskular dan dapat dikembangkan menjadi alat dalam mengambil keputusan klinis,” papar dr Dafsah.

Teknik pencitraan kardiovaskular juga sangat berperan dalam mendeteksi penyakit tertentu, seperti penebalan dinding pembuluh darah arteri karena plak yang terbentuk dari kolesterol dan kalsium atau biasa disebut atherosclerosis dan penyakit cardiomyopathise, yaitu kelainan pada otot jantung.
Salah satu kemajuan di bidang teknik pencitraan yang menggembirakan saat ini yaitu tren untuk memahami dan mengidentifikasi mekanisme patofisiologi melalui terapi pencegahan baru, yaitu pencitraan molekular yang dapat mengidentifikasi penyakit kardiovaskular sejak dini.

“Dari pendeteksian dini, pasien dapat diberikan obat dan terapi pencegahan agar darah tidak mengental sehingga dapat menimbulkan plak,” pungkasnya. (Sri Noviarni)

Sumber dari Sindonews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *