Hot News Nasional

Terorisme dan Penyakit Peradaban Kita

Harianbogor — Jakarta, CNN Indonesia — Terorisme adalah kepanjangan tangan dari kekuatan jahat yang tak pernah berhenti memusuhi kemanusiaan.

Dunia pernah mengenal Hannibal Lecter, karakter ciptaan Thomas Harris dalam seri novelnya yang mengerikan itu, seorang kanibal keji dengan kepintaran luar biasa. Dunia juga mengenal Adolf Hitler, seorang orator ulung tanpa ampun, atau Stalin seorang fanatik keji, Pol Pot Si Tukang jagal dari Timur, dan tentu saja Soeharto dengan rentetan pelanggaran hak asasi manusia.

Kita mengenal banyak figur sejarah yang kejam dan beringas luar biasa.


Yang tak kalah keji dari itu semua adalah para teroris dan terorisme yang mengaburkan batasan definisi musuh. Misalnya saja Abu Bakar Al Baghdadi, pemimpin ISIS, yang membantai sesama Muslim di Irak dan Suriah. Sebuah teror keji yang membuat seluruh rambut di tubuh berdiri.

Mereka tidak mengenal batasan medan dan area damai. Mereka tak mengenal aturan perang atau syariat agama. Bagi mereka, musuh adalah setiap orang yang tidak sealiran. Dan bahkan untuk membantai teman sealiran pun bukan perkara yang memberatkan jiwa.

Namun saya selalu berpendapat, ekstremisme itu ada di setiap bentuk ideologi, pemikiran, dan agama. Bukan berarti setiap pemikiran, ideologi atau agama itu memiliki celah ekstrimisme, tetapi lebih bagaimana para penganutnya menafsirkan “isme” itu.

pada awal pertengahan abad pertama Masehi, seorang kaisar membakar kota Roma. Ia kemudian menonton kejadian itu sambil bernyanyi dan memetik harpa. Sebelum itu, juga terjadi peristiwa yang tak kalah mengerikan kala Kaisar ini dan kaum pagan Roma meneror kaum pengikut Nabi Isa atau Yesus di pusat peradaban dunia.

Teror berbeda disebarkan tangan-tangan kekuasaan bengis, sebagaimana digambarkan oleh Henryk Sienkiewicz, seorang pemenang Nobel Sastra dari Polandia, dalam novel historisnya, Quo Vadis. Kala itu Colloseum dijadikan tempat mengadu manusia dengan manusia, manusia dengan singa, dan pengikut Kristen awal dijadikan tontonan memabukkan untuk memuaskan hasrat sadisme warga Roma kuno. Teror.

Teror juga terjadi lewat tangan kaum Hashisshin pada abad ke-11. Hasan Ibnu Sabah yang dijuluki sebagai Orang Tua dari Gunung adalah pengikut Syiah Fathimiah meneror wilayah sekitar Suriah, Iraq, juga Persia dengan mengirimkan pembunuh-pembunuh terlatih, membantai para raja, baik Islam maupun Kristen.

Hashisshin adalah terminologi awal kata “assassin” pada Bahasa Inggris. Warisan kaum teroris ini masih kita rasakan sekarang, baik “istilah” untuk pembunuh terlatih ini maupun metodologi indoktrinasi ataupun tekniknya.

sumber dari — CNN indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *