DI SEBUAH desa kecil di lereng Gunung Salak, suara takbir bergema menembus sore yang teduh, seakan menjadi penanda lahirnya sebuah rumah ibadah baru yang penuh makna.
Hari itu, Kamis 4 September 2025, wajah-wajah santri Pondok Pesantren Al-Fatih 1453 di Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, tampak berbinar.
Karena mimpi panjang mereka akhirnya terwujud dalam bentuk Masjid Darul Rahmah Lil’alamin (DRL).\
Masjid itu diresmikan langsung oleh dr. Richard Lee, dokter yang belakangan dikenal bukan hanya karena profesinya, tetapi juga karena komitmennya menebar kebermanfaatan di banyak pelosok Indonesia.
Ia tak sendirian, peresmian itu turut dihadiri ustadz Derry Sulaiman dan jajaran ASAR Humanity, lembaga kemanusiaan yang berkolaborasi membangun masjid tersebut di kawasan Rumah Qur’an Al-Fatih.
Semangat Membangun Masjid dari Kisah Nabi Muhammad

Bagi Richard, membangun masjid bukan sekadar proyek amal, melainkan sebuah ikhtiar spiritual yang lahir dari keteladanan Nabi Muhammad SAW.
“Saya pernah mendengar kisah Nabi yang membangun masjid lalu mengumpulkan orang untuk beribadah, dari situ saya berniat untuk membuat masjid,” kata Richard dalam sambutannya.
Baca Juga:
Himel Hadirkan Visi Hunian Modern melalui Kampanye Global “Dream Home”
FAMILIARITÉ: Ketika Sinema dan Sastra Bertemu dalam Sebuah Karya Puitis
Itulah pijakan yang mengantarnya pada langkah besar: target pribadi membangun 200 masjid di Indonesia.
Sebuah perjalanan panjang yang ia akui tak mungkin diwujudkan sekaligus, melainkan secara bertahap.
Di mata Richard, masjid adalah pusat kehidupan umat, bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga ruang kebersamaan, pembelajaran, hingga penguat ikatan sosial di tengah masyarakat.
Kolaborasi Kemanusiaan dan Jejak ASAR Humanity
Bagi ASAR Humanity, pembangunan Masjid DRL merupakan bagian dari visi yang lebih luas, sebuah kesinambungan dari kiprah lembaga yang berdiri pada 2018.
Baca Juga:
Noval Arian, pimpinan ASAR Humanity, menjelaskan awalnya lembaga ini berfokus pada pendidikan di pesantren.
Namun perlahan meluas ke bidang kemanusiaan lain seperti bantuan bencana, isu Palestina, pangan, hingga penyediaan air bersih.
“Program pembangunan masjid ini termasuk dalam program pendidikan kami, karena itu kali ini kami bangun di pondok pesantren, salah satunya Pondok Pesantren Al-Fatih 1453,” ujar Noval.
ASAR Humanity tak asal memilih lokasi, melainkan melalui pemetaan kebutuhan di lapangan, salah satunya dengan dukungan relawan Kesatria atau Kesatuan Asli Relawan Indonesia yang menemukan Pamijahan sebagai wilayah yang mendesak membutuhkan sarana ibadah.
Harapan yng Tersisa dari Cita Cita Sang Pendiri
Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al-Fatih, masjid ini lebih dari sekadar bangunan, melainkan wujud nyata dari cita-cita yang sempat tertunda.
Lala Apriani, Ketua Yayasan Al-Fatih, tak kuasa menahan tangis ketika menyampaikan rasa syukurnya, karena mendiang kakaknya yang mendirikan pondok ini sangat ingin melihat masjid berdiri di sana.
Baca Juga:
Bogor Barat Butuh Banyak Sarjana dari Berbagai Disiplin Ilmu
Fair Finance Asia Desak Perbankan Hentikan Pendanaan untuk Sektor Batu Bara di ASEAN
“Ini salah satu cita-cita almarhum kakak saya, beliau sangat ingin ada masjid di sini, alhamdulillah melalui bantuan dr. Richard dan ASAR Humanity cita-cita itu terwujud,” kata Lala penuh emosional.
Selama bertahun-tahun, santri di pondok hanya mengenal saung sederhana sebagai tempat belajar dan beribadah, ruang yang sempit namun penuh semangat, hingga kini berganti masjid yang lebih layak dan memberi ruang khusyuk.
Jejak Panjang Pembangunan Dan Harapan Masa Depan
Bagi masyarakat Pamijahan, Masjid DRL bukan hanya tempat sujud, melainkan simbol baru harapan, pusat dakwah, dan sumber energi sosial yang dapat menghidupkan desa.
Di satu sisi, pembangunan ini memperlihatkan pola kolaborasi baru antara individu dermawan dan lembaga kemanusiaan, menggabungkan gagasan pribadi dengan strategi kelembagaan yang lebih terukur.
Richard sendiri menyadari perjalanan mencapai 200 masjid bukan perkara mudah, namun melalui model kemitraan seperti ini, langkahnya menemukan jalannya.
Santri Al-Fatih kini tak lagi terikat pada saung rapuh, mereka memiliki rumah ibadah yang akan menjadi pusat kegiatan keagamaan, tempat belajar, dan barangkali juga tempat lahirnya para penghafal Al-Qur’an.
“Rasanya luar biasa, selama ini kami shalat dan belajar hanya di saung, kini dengan adanya masjid kami bisa lebih khusyuk beribadah,” ucap Lala, menutup hari yang penuh syukur itu.****












