BOGOR – Dunia pendidikan Jawa Barat digegerkan oleh gebrakan yang lebih heboh daripada rilis skin Mobile Legend terbaru.
Gubernur Dedi Mulyadi (), mengeluarkan jurus pamungkas atasi problem klasik kenakalan remaja: “kirim mereka ke barak militer!” Eh ralat, setelah banyak bisik-bisik dan kritik pedas, namanya di-upgrade jadi “Sekolah Kebangsaan Jawa Barat Istimewa.”
Mungkin biar kedengeran lebih ramah di telinga para pejuang HAM dan ahli pedagogi.
Awalnya, target operasi program yang dimulai sekitar awal Mei 2025 ini jelas: para remaja dengan “kekhususan perilaku,” kalau kata surat edaran resminya.
Terjemahan bebasnya? “Tukang tawuran, tukang mabuk, kecanduan game online akut yang kalau mabar lupa waktu dan doa, yang kalau disuruh orang tua jawabnya ‘entar dulu’ sambil scroll TikTok, boti yang kelakuannya miring kiri kanan, sampai yang hobinya bikin onar di sekolah.” Pokoknya, anak-anak yang sukses bikin orang tua istighfar lebih sering dari biasanya.
Namanya juga program penuh kejutan, di antara para “calon ksatria” ini nyempil juga siswa-siswa yang ngakunya “nggak ada kasus, Bro!” Ada yang ikut karena “disuruh guru BK buat uji coba,” ada juga yang sukarela daftar “buat cari pengalaman aja.”
Mungkin buat nambah portofolio konten #AnakBaikGoesToMilitary, siapa tahu, kan? Fleksibilitas rekrutmen ini tentu saja memicu pertanyaan: jadi ini program buat anak nakal, anak gabut, atau siapa saja yang mau merasakan sensasi kasur barak dan yel-yel pagi?
Selama kurang lebih 18 hari, para peserta ini “digodok” di tempat-tempat seperti Rindam III Siliwangi di Lembang atau Markas Resimen Armed di Purwakarta.
Jangan bayangkan seperti di film-film perang yang serba keras. Menurut bocoran dari siswa yang “live report” via TikTok, fasilitasnya lumayan: kasur rapi, lemari pribadi, dan masih bisa bercengkerama dengan sesama “santri”.
Baca Juga:
Gravity Game Unite (GGU) Tutup OBT MMORPG PC “Ragnarok Zero: Global” dengan Sukses Besar
Menu hariannya? Ya standar lah, baris-berbaris, arahan dari bapak-bapak TNI, plus materi bela negara dan kedisiplinan.
Yang paling bikin senyum? Ternyata, di tengah gemblengan itu, ada jatah main HP dan update status di hari libur buat yang nggak dibesuk. Sungguh kearifan lokal yang memahami kebutuhan eksistensi generasi Z!
Hasilnya? Kalau kata testimoni dan rilis resmi sih, spektakuler! Para alumni angkatan pertama (sekitar 273 siswa, mayoritas dari Bogor dan Purwakarta) diklaim berubah drastis. Puncaknya, mereka jadi petugas upacara Hari Kebangkitan Nasional.
Yang dulu mungkin ahli strategi tawuran, kini gagah jadi pengibar bendera. Momen perpisahan dengan orang tua? Jangan ditanya.
Banjir air mata, sujud syukur, pelukan erat, bahkan ada ibu yang pingsan saking terharunya.
Kang DM sendiri sampai tak kuasa menahan tangis dan langsung me-rebranding para lulusan ini: “Kalian bukan anak nakal, tapi anak hebat!”
Namanya juga cerita, selalu ada “tapi”-nya. Kang DM sendiri, di balik keharuannya, ternyata “ketakutan” kalau anak-anak didiknya ini kumat lagi begitu balik ke habitat asli.
Solusinya? Buat yang nggak dijemput atau kondisi keluarganya dianggap rawan, langsung “dilarang pulang” dan diangkat jadi anak asuh pribadi Gubernur, lengkap dengan fasilitas tinggal di Gedung Pakuan dan beasiswa sampai kuliah.
Sebuah paket “pasca-barak” yang sungguh totalitas. Ini memicu bisik-bisik: kalau memang 18 hari sudah cukup sakti, kenapa masih ada “paket retensi” segala? Apa jangan-jangan “garansi anti-nakal”-nya cuma berlaku selama di area barak?
Para kritikus pun tak tinggal diam. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), misalnya, mendesak program ini dihentikan karena dianggap “tidak memiliki dasar pedagogis dan psikologis yang jelas” dan “berpotensi melanggar hak anak.” Pengamat macam Rocky Gerung juga nyeletuk kalau ngirim anak ke barak itu “dangkal.” Bahkan Gubernur Lemhannas punya pendapat beda soal penanganan anak nakal.
Baca Juga:
Perkuat Hubungan dengan Masyarakat, Musim Mas Salurkan Hewan Kurban di Berbagai Wilayah Operasional
Uniknya, Kak Seto dari LPAI, yang biasanya jadi garda terdepan pembela hak anak dengan pendekatan lembut, kali ini punya sikap yang agak… ambigu.
Beliau mengapresiasi, ikut terharu sampai nangis, dan bilang program ini “langkah gemilang” yang bisa jadi gerakan nasional.
Tapi, dengan catatan tebal: perlu dievaluasi total oleh pihak luar sampai tuntas! Sebuah permintaan yang kalau dianalogikan kayak bilang, “Ini makanannya enak banget, tapi tolong cek dulu ya ke lab, ada sianidanya nggak.”
Digeplak KPAI soal program barak militer yang katanya bisa melanggar hak anak (karena nggak pake surat sakti dari psikolog), Kang Dedi Mulyadi nggak gentar.
Dengan senyum khas pejabat yang sudah khatam drama, beliau bilang, “Makasih lho, KPAI, atas masukannya.” Pujian setinggi Monas pun dilayangkan ke KPAI yang dianggapnya lebih jago urusan anak. Tapi, jangan kira Kang DM langsung ngibarin bendera putih.
“Ini semua demi kemanusiaan, Bos! Masalah anak di Jabar ini udah ruwet kayak kabel headset di kantong,” kilahnya. Ibarat ada korban bencana, masa iya mantri biasa diam aja nunggu dokter spesialis? “Saya berdosa kalau nggak ngapa-ngapain!” tegasnya.
Dengan manuver sekelas pemain catur profesional, Kang DM “mengoper bola” dengan elegan.
“Mohon KPAI juga turun tangan dong, masih banyak anak Jabar yang belum keurus nih, biar tugas saya ringan.” Bahkan, beliau ngasih PR tambahan ke KPAI: kasus pelecehan seksual anak yang pelakunya orang dekat dan guru ngaji, yang katanya “hampir merata” di Jabar.
“Yuk, gandengan tangan lindungi anak Indonesia!” ajaknya.
Kang DM malah ngajak KPAI buat ngurus masalah yang menurutnya lebih gede. Sebuah jawaban yang bikin kita mikir, “Ini lagi ngeles, ngajak kolaborasi, atau emang lagi curhat colongan, ya?” Yang jelas, drama pendidikan karakter di Tatar Sunda ini makin banyak babaknya.
Program ini terus berevolusi. Dari “Barak Militer” yang fokus ke anak “bermasalah”, kini bertransformasi jadi “Sekolah Kebangsaan Jawa Barat Istimewa.
” Targetnya pun meluas. Bukan cuma yang suka tawuran, tapi juga “anak yang memiliki kemampuan akademik dan pikiran yang tinggi.” Bahkan, mahasiswa teknik yang dapat beasiswa Pemprov Jabar wajib ikut sekolah kebangsaan ini sebulan biar “nasionalismenya makin greng.
” Kang DM sendiri membela mati-matian programnya, menyebut pendukungnya “kaum nasionalis” dan pengkritiknya “pembenci yang politis dan tidak punya spirit kebangsaan.” Sebuah polarisasi narasi yang makin bikin seru.
Daerah lain, seperti Tangerang dan Wali Kota Semarang, katanya sih “melirik” dan “tertarik” buat mengadopsi.
Mereka masih mau “kaji dulu” dan “studi banding,” nggak mau buru-buru kayak Jabar.
“Memulai jauh lebih baik dibanding hanya bermimpi dengan wacana dan kajian akademis yang tidak pernah berakhir,” kata Kang DM menyindir para teoretisi.
Gubernur Jawa Tengah sendiri, menyambut baik minat Walkot Semarang, mengingatkan pentingnya mengikuti aturan dan melibatkan penuh orang tua serta sekolah.
Jadi, apakah sulap karakter kilat ala Kang DM ini benar-benar solusi atau cuma sensasi sementara? Apakah nasionalisme bisa ditanamkan secepat menanam kangkung hidroponik? Waktu dan evaluasi (kalau jadi dilakukan) yang akan menjawab.
Yang pasti, drama pendidikan karakter di Jawa Barat ini sukses bikin kita semua punya bahan buat ngopi sambil mikir (atau ketawa). (Ariyo Mukti, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Diponegoro).***
Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infotelko.com dan Infoekonomi.com.
Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media 23jam.com dan Haiidn.com.
Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Hallotangsel.com dan Haisumatera.com.
Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.
Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.
Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com
Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.
Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.
Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.
Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center


















